POKTAN BUMI LUHUR WONOSARI GELAR TRADISI TUTUP TANDUR BERSAMA STAKEHOLDER

  • Jan 22, 2026
  • Muhamad Abdul Aziz Rowi

Wonosari – Rumah Tani Kelompok Tani (Poktan) Bumi Luhur di Desa Wonosari, Kecamatan Puger, menjadi saksi bisu harmonisasi antara tradisi, birokrasi, dan sektor swasta. Pada Kamis (22/01), kelompok tani setempat menggelar syukuran Tutup Tandur, sebuah ritual adat yang menandai tuntasnya proses tanam padi di wilayah tersebut.

 

Berbeda dari biasanya, acara kali ini dihadiri oleh jajaran lengkap pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintahan desa hingga mitra industri pertanian, guna memperkuat ekosistem pertanian di Desa Wonosari.

Forum Silaturahmi Lintas Sektoral

Kehadiran para tokoh penting dalam acara ini menegaskan bahwa urusan pertanian adalah tanggung jawab bersama. Hadir di lokasi antara lain:

 * Tiga Pilar Desa Wonosari: Kepala Desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas yang mengawal stabilitas dan kemandirian pangan tingkat desa.

 * PPL Pertanian Dinas Pertanian Kab. Jember: Sebagai pendamping teknis yang memberikan arahan terkait pola tanam dan pemupukan berimbang.

 * UPT Pengairan Balung: Meninjau kesiapan infrastruktur irigasi demi menjamin pasokan air selama masa pertumbuhan padi.

 * Distributor Pupuk & Pestisida: Hadir untuk memberikan edukasi mengenai ketersediaan input pertanian dan solusi perlindungan tanaman.

 

Menjaga Tradisi di Rumah Tani

Ketua Poktan Bumi Luhur menjelaskan bahwa pemilihan Rumah Tani sebagai pusat kegiatan bertujuan untuk meneguhkan fungsi tempat tersebut sebagai "rumah aspirasi" bagi para petani.

"Tutup Tandur adalah warisan budaya luhur. Dengan berkumpulnya semua pihak di sini, dari pemerintah hingga distributor, kami merasa tidak sendirian. Kami bisa langsung berdiskusi tentang masalah air, pupuk, hingga keamanan sawah sambil melestarikan adat doa bersama," ungkapnya.

 

Kolaborasi untuk Hasil Maksimal

Dalam sesi ramah tamah, perwakilan dari PPL Pertanian dan Distributor Pertanian saling berbagi informasi mengenai inovasi terbaru untuk meningkatkan produktivitas lahan. Kehadiran pihak distributor juga dimanfaatkan petani untuk berkonsultasi mengenai penanganan hama secara efektif dan efisien.

Sementara itu, Tiga Pilar Desa bersama UPT Pengairan Balung berkomitmen untuk terus berkoordinasi dalam menjaga keamanan distribusi air irigasi, terutama di titik-titik rawan, guna mencegah konflik antarpetani dan memastikan seluruh lahan terairi dengan merata.

 

Penutup dan Harapan

Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama sebagai simbol persatuan. Tradisi Tutup Tandur di Rumah Tani ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara petani, pemerintah, dan pihak swasta demi mewujudkan swasembada pangan di Kabupaten Jember.